Banten

Pesan Ekstasi, Mahasiswa Pakai Identitas Orang Tua

Administrator | Kamis, 12 November 2015

TANGERANG - Arma Pradipta Hidayat (21), terdakwa pemilik 97 butir pil ekstasi didakwa oleh jaksa melanggar pasal 113 ayat (2) UU No.35 tahun 2009 tentang narkotika. Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Tangerang terungkap, terdakwa yang merupakan mahasiswa itu memesan paket 97 butir pil ekstasi dari Jerman menggunakan identitas orang tua. 

Dalam pemesanan itu, paket yang berisikan barang haram tersebut ditujukan atas nama Andi Prapancha Hidayat dengan alamat Jalan Jalak Komplek Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Diduga, terdakwa sengaja menaruh identitas sang ayah agar tidak mudah dilacak saat pengambilan paket tersebut.

Pengungkapan kasus itu lanjut jaksa, berawal dari petugas Bea dan Cukai Kantor Pos Pasar Baru Jakarta Pusat yang menerima sejumlah paket barang yang masuk ke Indonesia yang berasal dari Jerman 29 Mei lalu. "Petugas yang curiga langsung melacak barang tersebut ke alamat Jalan Jalak Komplek Bintaro Jaya, Tangerang Selatan,” ujar jaksa penuntut umum Satya Adriatien.

Petugas Bea dan Cukai bersama anggota BNN melakukan Controlled Delivery. Benar saja, keesokan harinya terdakwa datang untuk mengambil paket berisikan ekstasi itu di kantor Pos Ciputat. 

"Setelah barang itu diambil terdakwa, petugas gabungan menangkap terdakwa di areal parkiran di Kelurahan Pondok Cabe, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan,” ujar jaksa.

Menurut jaksa, 97 butir ekstasi dengan berat mencapai 44,8 gram itu dipesan melalui seorang temannya bernama Panji Bagas Dwi Prakoso yang saat ini menjadi buronan petugas. Temannya tersebut memesan melalui situs blog. 

“Terdakwa awalnya memesan ekstasi kepada temannya Panji Bagas Dwi Prakoso (DPO) dengan menyerahkan uang cash sebesar Rp. 5 juta untuk 50 butir ekstasi, selanjutnya ekstasi dikirim melalui kantor pos,” tandasnya. (sar)