Figur

Mengenang Tragedi Pelaksanaan Haji 2015

Catatan Kecil Perjalanan Haji

Administrator | Senin, 05 Oktober 2015

Namun ada suasana yang berbeda saat tiba di perbatasan kota Makkah. Cuaca panas yang kami rasakan saat berada di Madinah jauh berbeda dengan di Mekah. Udara sejuk mengiringi perjalanan kami, bahkan sempat di guyur hujan yang cukup lebat. Namun, karena adanya perubahan cuaca yang ekstrim, mengakibatkan badai yang mampu menerbangkan pasir yang berada di wilayah sekitar perjalanan. 
Dengan diiringi udara sejuk dan air hujan, akhirnya kami sampai di maktab 51 Jarwal. Maktab ini disediakan khusus untuk para jama'ah haji Indonesia, dan saya menempati tower 1 Lantai 26. 
Aktivitas ibadah pun dimulai, dengan mengikuti thawaf wajib perdana serta umroh dan sholat wajib di masjidil Haram. Jarak tempuh maktab kami dengan masjidil Haram sekitar 1 kilometer. 
Selama menjalankan ibadah di Makah, kami tidak merasakan ada kejanggalan cuaca. Namun begitu kaget ketika mendapat informasi bahwa terjadi angin kencang yang sempat kami alami itu adalah badai pasir. Beberapa sahabat dan keluarga sempat meminta kabar dari kami. Tentu saja kondisi ini membuat heran para jama'ah yang tidak merasakan apapun. Nampaknya berita yang tersiar di tanah air seolah telah terjadi badai pasir dahsyat yang menimpa jama'ah Indonesia.
Sebagai jama'ah yang berada di lokasi sumber berita, tentu kami berusaha menenangkan pihak-pihak yang terpengaruh atas informasi yang cukup berlebihan. Berbagai jawaban sms hingga pembuatan status bbm pun kami lakukan untuk menenangkan keluarga dan handai taulan di Indonesia, dan berharap mendo'akan kami. Alhamdulillah suasana pun akhirnya kembali tenang.
Tepat tanggal 11 september 2015, kami mengikuti program City tour perdana untuk ziarah dan kunjungan ke beberapa musium. Berhubung pelaksanaan City tour ini jatuh pada hari jum'at, akhirnya kami hanya bisa membatasi kegiatan hingga pukul 10.30 WAS. Sesampai di maktab kembali, saya memutuskan untuk segera berangkat sholat Jum'at ke masjidil Haram. Karena jarak cukup jauh, akhirnya saya menggunakan jasa kendaraan Umum yang biasa mangkal di depan hotel untuk mengangkut penumpang ke masjid. Saking terburu-burunya akhirnya saya salah naik kendaraan dan diturunkan di lokasi belakang bangunan masjid yang dipenuhi oleh alat berta termasuk crane.
Oleh karena daerah ini baru saya kunjungi, selepas sholat Jum'at saya tersesat dan akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan pintas melalui masjidil Haram yang dipenuhi oleh crane. Padatnya jama'ah membuat perjalanan pulang saya cukup melelahkan. Jutaan orang berduyun keluar masjid bahkan sempat berbenturan pula dengan para jama'ah yang akan masuk masjid. 
Pukul 15.00 WAS saya beristirahat sejenak di bawah crane besar untuk berteduh. Dalam hati ingin beristirahat hingga menunggu sholah ashar, maghrib dan isya di Masjidil Haram. Namun apa daya, nampaknya isi perut tidak bisa dikendalikan. Akhirnya saya memutuskan pulang ke maktab dengan berjalan kurang lebih 6 kilomter akibat kesalahan jalur pulang dari masjidil Haram ke maktab.
Pukul 16.00 WAS akhirnya sampai juga saya di maktab tempat penginapan jama'ah haji kloter 14. Setelah santap siang sambil menunggu ashar, saya berusaha beristirahat di kamar hotel maktab Indonesia. 
Selepas sholat ashar kembali saya beristirahat sambil membaca Kita Suci Al-qur'an. Tepat pukul 17.20 terdengar suara gemuruh disertai jendela yang terbanting keras membuat saya terjaga dari tempat tidur. Begitu terkejut ketika saya mendapat telpon dari istri saya sambil menangis minta tolong. Saya pun berlari ke kamarnya, dan ternyata ibu-ibu yang sekamar dengan istri saya menangis sambil memegang jendela yang akan terbawa badai. Sontak saja saya mengambil tali dan Mengikat kencang jendela agar tertahan dari hembusan kencangnya badai. Sambil berteriak takbir, riuh angin disertai air hujan dan pasir terus menghantam jendela kamar hotel. Bahkan beberapa pintu masuk hotel sempat terbuka dan merontokkan langit-langit. Begitupun gentole (alat pembersih kaca) yang tergantung jatuh dari Lantai 26 ke Lantai dasar dan tersangkut di auning hotel. Hampir setengah jam ketegangan melanda penghuni hotel. Bahkan ada beberapa orang berusaha untuk turun menggunakan lift dan tangga darurat.
Setelah situasi jendela aman saya berusaha mengevakuasi istri dan ibu-ibu yang ada untuk berkumpul di lorong kamar. Dan akhirnya semua penghuni pun berkumpul di lorong untuk bersama-sama membaca do'a dan Yasin agar segera lepas dari musibah badai.
Suasana makin tegang tatkala gedung hotel yang kami tempati di Lantai 26 terasa bergoyang. Dan kami pun saling berpelukan seraya berpasrah diri pada Allah SWT.
Rasa syukur tak terhingga ketika badai berlalu. Dan jama'ah pun mulai kembali ke kamar serta membersihkan beberapa perlengkapan yang sedikit berantakan.
Selang setengah jam, kami dikagettkan oleh banyaknya dering telpon dari Indonesia. Ketika diangkat ada khabar crane jatuh dan menewaskan lebih dari 100 orang.
Suasana haru kembali menyeruak, dan masing-masing jama'ah berhamburan mencari jama'ah lain yang belum pulang.
Keadaan ini cukup membuat traumatis para jama'ah hingga seminggu lamanya. 
Setelah suasana mulai dianggap tenang, saya bersama istri kembali ke masjidil Haram untuk menunaikan sholat Shubuh. Namun ketika adzan subuh selesai, tiba-tiba jama'ah berhamburan kembali berlarian sambil berteriak histeris. Sontak saya pun berusaha menyelamatkan diri di balik tiang masjid. 
Setelah suasana reda saya berusaha mencari informasi, ternyata trauma badai dan jauhnya crane membuat rasa ketakutan mendalam bagi para jama'ah. Suara gemuruh dan angin yang dirasakan tiba-tiba jelang sholat Shubuh membuat berlarian jama'ah. Ternyata angin dan gemuruh yang terjadi itu berasal dari helykopter yang melintasi masjidil Haram dan mendarat di atap masjid.
Selama berada di kota Makah, cuaca ekstrem memang terus terjadi. Sesekali badai datang namun tidak sedahsyat saat crane berjatuhan.
Kebiasaan cuaca ekstrim yang terus terjadi, ternyata lambat-laun telah membuat para jama'ah beradaptasi. Hingga kami mulai merasakan kenyamanan beribadah tanpa dihinggapi rasa kekhawatiran. Tiba waktunya pada tanggal 22 september 2015 kami diberangkatkan ke Arofah untuk wukuf. Suasana begitu padat dalam mendapatkan angkutan yang disediakan pihak maktab, dan setidaknya kami mendapat pelayanan 7 bus untuk mengangkat jama'ah di maktab 51 Jarwal dengan jumlah jama'ah mencapai 251.000 orang. Bus ini terpaksa harus bolak-balik antar jemput jama'ah. Giliran kloter 14 mendapatkan waktu pemberangkatan pukul 12.00 WAS. Alhamdulillah meski Harus berdesakan akhirnya kami mulai bergerak dan Tiba di Arofah sejam kemudian. Do'a kami dalam perjalanan memohon agar diberikan cuaca bersahabat, sehat dan nyaman. Setiba di lokasi tenda, seperti biasanya kami merapihkan tenda dengan mengatur posisi tidur yang saling berhimpitan. Posisi tidurpun ditata seperti layaknya menjajarkan ikan pindang. Kaki beradu satu sama lain, dan dibagian lain Kepala beradu diantara jama'ah. Cuaca panas pun mengalahkan AC yang disediakan Panitia. Namun dengan keikhlasan karena panggilan Allah SWT kami tetap mengikuti apapun kondisinya demi berharap keridhoan-Nya.
Sekitar pukul 17.00 WAS kembali kami disambut gerimis di Arofah, namun Selang setengah jam datanglah badai yang meniup pasir di sekitar Arofah sehingga mengakibatkan beberapa maktab yang terbuat dari tenda roboh. Namun tidak ada korban luka ataupun jiwa. 
Dua hari kemudian kami pun harus beranjak kembali ke Muzdalifa untuk mengambil batu yang akan digunakan dalam jumroh di Mina. Kami mulai diangkut pukul 21.00 WAS dan Tiba di Muzdalifa pukul 22.00 WAS. Setelah istirahat sejenak, akhirnya kami mengawali memungut batu di sekitar tikar yang kami pasang dengan cara mengorek pasir dan memungut batu yang diperkirakan bisa digunakan untuk pelempran. Setidaknya kami harus mengumpulkan minimal 70 batu untuk 3 kali pelemparan. Setiap lokasi jumroh kami harus melempar 7 batu.
Setelah batu terkumpul kami pun melaksanakn wukuf hingga pukul 03.00 WAS. Kami pun kembali diangkut menuju Mina untuk wukuf dan jumroh.
Saat Tiba di Mina kami langsung diarahkan ke tenda maktab 51 yang telah disediakan. Setelah sholat Shubuh kami bertekad segera melaksanakan lempar jumroh di Jamarat. Dengan berpakaian masih mmenggunakan kain ihram kami berangkat ke depan terowongan Mina. Meski badan terasa lemas dan kantuk, kami coba untuk melakukannya. Namun di perjalanan kami di hadang oleh askar (keamanan Arab Saudi) dan petugas haji Indonesia untuk kembali ke Maktab, Alasan mereka kondisi sangat padat dan tidak bergerak. Akhirnya kami pun memilih mematuhi aturan ini dan kembali ke maktab.
Kesempatan ini tentu saja tidak kami sia-siakan untuk istirahat dan sarapan pagi. Setelah istirahat di rasa cukup, kami pun kembali bergerak menuju terowongan untuk mengambil lempar jumrah di Jamarat. Setidaknya 6 kilometer kami lalui perjalanan dari Maktab ke Jamarat. Akhirnya pelaksanaan jumroh pertama selesai kami laksanakan.
Sesampai di maktab kami mendapatkan berita jika ada satu orang jama'ah haji kloter 14 meninggal di perjalanan menuju Jamarat. Akibat kelelahan dan dehidrasi. Selang beberapa menit kembali kami dikejutkan dengan berita dari saudara dan teman di tanah air, bahwa ada Liputan di media tentang tragedi Mina yang telah mengakibatkan lebih dari 700 orang meninggal serta luka-luka. 
Ketegangan kembali kami alami, sesekali kami sujud sukur bisa terhindar dari tragedi itu. Karena kami menyadari jika saja saat langkah pertama pukul 06.00 WAS kami memaksakan diri untuk berangkat lempar jumroh pertama, dan tidak di larang oleh petugas. Mungkin kami juga akan menjadi bagian dari korban tragedi. 
Akhirnya rasa haru dan syukur pun menyelimuti kami. Beberapa jama'ah lain Sibuk mencari anggota rombongan yang diperkirakan melaksanakn jumroh di waktu kejadian.
Malam hari saya bersama beberapa jama'ah mencoba mencari tahu kronologi tragedi. Nampaknya pihak petugas maupun lainnya belum dapat memastikan faktor penyebabnya serta identitas korban.
Alhamdulillah atas kejadian ini, petugas mulai melakukan perbaikan pelayanan keamanan bagi para jama'ah haji menuju terowongan. Hingga akhirnya kami mampu menuntaskan rangkaian rukun haji di Mina dan kembali ke tanah Suci Makah di maktab 51 Jarwal. Hingga nanti kami segera melaksanakan Thowaf Ifadoh dan Wada untuk mengakhiri rangkaian pelaksanaan ibadah haji.
Sungguh suatu keadaan yang menjadi catatan penting dalam hidup saya selama perjalanan ibadah haji di tahun 2015. Bahwa sesungguhnya pelaksanaan haji tidak sekedar Menuntut kesiapan mental dan materil, namun juga fisik menjadi faktor utama. Disisi lain, naluri untuk dapat membaca keadaan dibutuhkan agar dapat terhindar dari insiden apapun yang terjadi Disamping memohon do'a pada Allah SWT. 
Dalam hal manajemen pelaksanaan haji saya menyoroti perlunya pembenahan pelaksanaan ibadah haji secara universal. Mengingat Haji adalah kewajiban rukun Islam yang harus dipenuhi oleh umat di seluruh dunia, nampaknya harus ditata agar manajemen haji dilaksanakan oleh suatu konsorsium negara-negara Isalm secara profesional dan tidak dibawah kerajaan Arab Saudí semata. Kenyamanan dalam akomodasi, konsumsi dan transportasi tentu menjadi bagian penting bagi kekhusyuan pelaksanaan ibadah haji.  Disamping itu faktor keamanan serta layanan sistem pemberangkatan dalam melaksanakan rukun haji setiap negará perlu diatur agar tidak terjadi benturan fisik para jama'ah yang berakibat pada kelelahan maupun korban.
Semoga catatan kecil ini dapat menjadi pengungkapan Kisah nyata saya dalam pelaksanaan haji di tahun 2015, serta dapat menjadi inspirasi bagi perbaikan layanan ibadah haji dimasa mendatang.

ISBANDI
Jama'ah Haji Kloter 14 
Embarkasi JKG