Pendidikan

Walimurid Keluhakan Pungli Berlabel Sumbangan

Administrator | Rabu, 30 Agustus 2017

KRONJO - Walimurid SMPN 1 Kronjo, Kabupaten Tangerang mengeluhkan pungutan liar (Pungli) dengan dalil sumbangan sukarela. Padahal pemerintah telah menggratiskan biaya pendidikan untuk tingkat dasar dan menengah pertama, khususnya di sekolah negeri.

Salah satu warga Pegedangan Ilir, Kecamatan Kronjo Sapiah mengungkapkan, sebagai warga yang tidak punya pekerjaan tetap, ia harus tetap menyekolahkan anaknya hingga jenjang sekolah menengah. Namun sayang, janji pemerintah untuk sekolah gratis tidak ia dapatkan sepenuhnya.

Anaknya yang kini duduk di bangku kelas 9 SMPN 1 Kronjo, kerap kali meminta uang untuk keperluan bayar sekolah. “Saya keberatan atas sumbangan-sumbangan yang diminta sekolah, mulai dari daftar ulang, membeli buku-buku LKS, sumbangan hewan korban serta masih banyak kegitan-kegiatan yang lain," ujarnya kepada jurnaltangerang.co.

Ini menjadi beban baginya, sebab jika tidak diturut, ia khawatir anaknya mendapat sanksi. Ia juga mengaku pusing mencari uang untuk kegiatan-kegiatan sekolah tersebut, kalau tidak mengikuti aturan takut anaknya ngabek dan putus sekolah. Terpaksa ia harus pinjam sana-sini.

"Anak saya mau sekolah dimana lagi kalau dikeluarkan. Sementara jika harus bertahan sekolah di SMPN 1 Kronjo, terus menerus diminta sumabangan," ujarnya.

Forum Masyarakat Peduli Pendidikan Ali Huti mengatakan, dibentuknya Komite Sekolah merupakan perwakilan dari orang tua murid yang harusnya menjadi jembatan bagi orang tua siswa dengan pihak sekolah. Komite Sekolah dibentuk untuk menampung keluhan, saran dan kritik dari orangtua untuk disampaikan kepada pihak sekolah. Saran tentang upaya peningkatan kwalitas mutu pendidikan tentu sangat diperlukan demi meningkatkan kwalitas kecerdasan anak bangsa.

"Dari laporan yang kami terima, Komite Sekolah dengan kewenangannya, seringkali mengumpulkan orang tua murid untuk menarik sumbangan-sumbangan. Selalu saja mereka mengatasnamakan peningkatan kualitas pendidikan, lalu mengadakan kegiatan-kegiatan yang memiliki pesan yang bersifat komersial," ujarnya.

Orang tua siswa sering kali terjebak pada sebuah keadaan yang serba salah. Rata-rata orangtua yang tidak berminat atau yang tidak mampu mengikuti kegiatan, tidak berani untuk menolak anaknya mengikuti kegiatan tersebut. "Mereka tidak berani sampai menyatakan keberatan. Mereka takut anaknya mendapat tekanan di sekolah," ujar Ali. (PUT)