Pendidikan

Pengelola Kelas Jauh STMIK Triguna Utama Akui Tilep Uang Mahasiswa

Administrator | Senin, 25 September 2017

TIGARAKSA - Dugaan penipuan yang melibatkan oknum marketing STMIK Triguna Utama terhadap puluhan mahasiswa kelas jauh di Balaraja menemui titik terang. Merasa tidak menerima uang, pihak kampus memanggil para mahasiswa untuk musyawarah.

Puluhan mahasiswa yang menjadi korban dugaan penipuan itu diundang oleh pengelola STMIK Triguna Utama di ruang rapat kampus di Perumahan Sudirman, Kelurahan Tigaraksa, Kecamatan Tigaraksa, Jumat (22/9) sore.

Dalam kesempatan itu, pihak kampus juga mendatangkan koordinator marketing STMIK Triguna Utama Tajul Muluk yang sebelumnya diduga telah memungut biaya dari mahasiswa.

Dalam pertemuan tersebut terungkap, jika pihak STMIK Triguna Utama tidak membuka kelas jauh seperti yang dilaksanakan oleh Tajul. Tapi uniknya, puluhan mahasiswa kelas jauh ini memiliki NIM dan transkip nilai dari Kampus Triguna Utama hingga semester III bahkan ada yang sampai semester VIII.

“Kami jelas kecewa. Karena batas wewenang marketing disalahgunakan. Jelas kami merasa dirugikan,” ujar Slamet Riyanto, Ketua Yayasan STMIK Triguna Utama, kepada wartawan.

Atas kasus ini pihak kampus dan mahasiswa meminta pertanggungjawaban dari Tajul. Jika tidak pengelola kampus dan para mahasiswa akan menempuh jalur hukum atas perbuatan Tajul tersebut. Baik pihak kampus maupun mahasiswa sama-sama dirugikan atas perbuatan Tajul tersebut.

Dengan kejadian ini, Slamet mengaku akan membatasi sepakterjang Tajul sebagai marketing. “Karena niatnya kurang bagus, otomatis kewenangan marketing ya kita tutup,” ungkapnya.

Ditanya apakah pihaknya akan menempuh langkah hukum atas tindakan Tajul tersebut? Slamet mengaku akan menunggu perkembangan berikutnya. “Kita lihat dulu itikad baik dari saudara Tajul untuk menyelesaikan permasalahan ini. Harapan kami, dia bisa menyelesaikan dan merealisasikan janjinya, kami akan menunggu,” tandasnya.

Dalam pertemuan tersebut, Tajul Muluk mengakui kesahalahanya telah menggunakan uang mahasiswa untuk keperluan pribadi. Lantas ia menjaminkan surat tanah dan rumah miliknya seluas 1.000 meter sebagai upayanya untuk mengganti uang mahasiswa yang sudah terpakai. Meski demikian, pihak kampus tidak mau begitu saja percaya, sebelum mengcek keabsahan surat tanah milik Tajul. Pihak kampus akan melibatkan tim appraisal untuk mengecek harga tanah itu, apakah nilai sesuai atau tidak untuk mengganti uang yang sudah disetorkan mahasiswa.

Diketahui, saat ini terdapat 22 mahasiswa yang terdaftar di STMIK Triguna Utama dan STIE ISM. Selama ini, para mahasiswa tersebut hanya membayar uang pendafataran awal yang nilainya Rp500-1 juta per mahasiswa. Sedangkan biaya administrasi untuk pelaksanaan sidang skripsi, pihak kampus belum pernah menerima dari tangan Tajul.

Padahal, ke-22 mahasiswa tersebut sebagian besar sudah menyetorkan Rp20,5 juta ke Tajul untuk selama menjalani perkuliahan hingga untuk keperluan sidang skripsi. Nilainya antara Rp500-1 juta per mahasiswa. Sementara 33 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan melalui Koordinator Kampus Necta di Balaraja (Mitra STMIK Triguna Utama-red), di bawah kendali Tajul, mayoritas telah membayar lunas biaya sidang skripsi untuk mendapatkan gelar sarjana.

Sementara, dua mahasiswa lainya yang masuk di STIE ISM kelas jauh di Balaraja mengaku sudah mengikuti sidang skripsi namun diminta sidang ulang. Kedua mahasiswa tersebut setelah dicek administarasinya oleh pihak kampus STIE ISM belum sepenuhnya masuk. Sedangkan nilai mahasiswa sudah memenuhi syarat untuk mengikuti sidang skripsi.

"Jika adminisatrasinya sudah terpenuhi sudah bisa mengikuti sidang di kampus ini. Karena kalian akan sama-sama ikut wisuda bersama mahasiswa lainnya tanggal 7 Oktober mendatang," ujar Boby Wakil Ketua STIE ISM dalam rapat musyawarah tersebut. (PUT)