Figur

Mendidik Anak Berpuasa

Administrator | Selasa, 14 Mei 2019

Oleh: Taufiq Munir

Tentunya anak-anak yang belum akil-baligh memang tidak diwajibkan berpuasa. Tapi tidak ada salahnya jika anak-anak dilatih berpuasa sejak dini. Ini penting, agar di kemudian hari anak tidak terlalu sulit melaksanakan kewajiban tersebut saat mereka dewasa. Karena itu diperlukan cara yang benar dan metoda yang tepat untuk melatih anak-anak beribadah, khususnya berpuasa.

Syekh Ibrahim Ridha, salah seorang imam Masjid dan pengajar di Wizaratul Awqaf Mesir, mengatakan, "Kaum ibu sudah saatnya membiasakan anak-anaknya berpuasa, meskipun tidak sampai satu hari penuh, melainkan lakukan secara bertahap. Misalnya dimulai dengan mengajaknya berpuasa sampai zuhur. Ini memang masih ijtihadi (usaha alternatif), bukan keharusan. Ibu-ibu juga bisa memulainya dengan cara berdialog terlebih dahulu kepada sang anak sebelum tiba Bulan Puasa. Misalnya, bicarakan tentang keutamaan bulan Ramadhan dan mengapa orang-orang banyak yang tidak makan dan minum pada bulan itu. Dengan demikian si kecil akan berfikir mengapa dirinya tidak puasa?

Lalu setelah bulan puasa tiba, kita bagi lagi. Pada hari itu si anak berpuasa hanya satu jam, setelah itu dua jam, lalu bertambah tiga jam. Begitu seterusnya sampai satu hari penuh di hari berikutnya. Dengan begitu puasa akan terpatri dalam jiwanya sebagai sebuah kebiasaan."

Dalam satu riwayat Rasulullah SAW bersabda, "Suruhlah anak-anakmu yang berusia tujuh tahun untuk shalat. Dan sentillah mereka ketika berusia sepuluh tahun." Secara tekstual Hadits ini menggunakan kata "wadhribuuhum" (pukullah anak-anakmu itu). Ahli fiqih menambahkan bighairi mubarrih (pukulan yang tidak membuat "bareuh", atau melukai). Karenanya, saya lebih setuju kalau anak-anak cukup disentil saja anggota badannya.

Menyangkut shalat kita latih anak-anak kita dari umur tujuh tahun hingga sepuluh tahun. Kalau puasa, kita latih anak-anak sejak usia pra-puber. Hikmah yang bisa kita petik dari latihan tersebut agar anak-anak terbiasa taat, sehingga kebiasaan-kebiasaan itu bernilai ibadah. Dan kelak bila mereka sudah baligh dan mumayyiz, kebiasaan beribadah itu menjadi kewajiban yang tidak lagi memberatkan. Sedangkan "anak-anak" yang sudah dewasa dan tidak membiasakan diri puasa dan shalat sejak kecil tidak perlu menggunakan cara pelatihan seperti ini.

Sejatinya anak kecil tidak boleh dipaksa berpuasa. Tetapi anak kecil yang "normal" akan mengikuti kebiasaan kedua orangtuanya yang puasa. Dengan demikian. terbuka lebar peluang orangtua untuk memberinya semangat puasa hingga "usia wajib puasa", sebagaimana firman Allah SWT, "Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu." (QS. Al-Baqarah : 183).

Artinya, wahai hamba-hambaKu, kalian jangan takut puasa, karena puasa ini juga sudah diwajibkan kepada kaum sebelum kamu, dan mereka sudah menjalankannya. Puasa juga terasa ringan karena umat-umat lain sebelum kelahiran Rasulullah SAW pun pernah diwajibkan berpuasa. Dengan demikian, kalau saja umat lain bisa melakukan ibadah puasa, maka mengapa kita tidak?

Oleh karena itu, bagi para orangtua, ajarilah anak-anak berpuasa, dimulai dari setengah hari sampai satu hari penuh hingga sempurna satu bulan. Dengan demikian puasa tidak lagi menjadi perkara yang sulit dilakoni bagi anak-anak kebanggaan kita yang merupakan anugerah dan amanah dari Allah SWT.

Penulis Adalah Dai Ambassador TIDIM-JATMAN, Jakarta.