Figur

Duo Golkar "Kerdilkan" Pileg 2019

Administrator | Sabtu, 09 Desember 2017

Oleh: Subandi Musbah

Setidaknya ada dua kerugian besar bagi partai pengusung jika petahana berpasangan dengan Haji Ombi. Kerugian tersebut akan dirasakan pada Pileg 2019.

Pertama, Karena pasangan calon Bupati dan Wakilnya berasal 1 partai yang sama, kelak ketika terpilih akan menguntungkan kader "beringin" pada perhelatan pileg 2019. Pasangan terpilih akan berupaya keras agar disetiap dapil ada figur atau kawan yang menduduki kursi parlemen.

Baik Zaki maupun Ombi memiliki kawan yang berbeda (beda barisan), dan mereka pasti di"paksa" untuk jadi. Setidaknya untuk mendapatkan 2 kursi pada setiap dapil akan lebih mudah. Hal ini menyebabkan sulitnya partai pengusung untuk berkembang. PKB, PPP, Gerindra, Demokrat, dan Nasdem akan kesulitan membentuk Fraksi "murni".

Kedua, konsolidasi partai politik 5 tahun kedepan hanya mungkin dilakukan oleh partai Golkar saja. Bagi partai pengusung sulit dan berat. Tidak ada lumbung untuk dihisap sebagai modal untuk sekedar bagi-bagi sapi saat Idhul Adha. Sedangkan konsolidasi partai merupakan langkah menuju capaian target pemenangan.

Setidaknya masih ada waktu 1 bulan untuk berpikir ulang. Partai politik yang ada di Kabupaten Tangerang kiranya harus bisa menahan laju Golkar agar 2023 tidak juga leluasa berkuasa di Kota seribu industri ini.

Proses pengkerdilan Pileg 2019 terjadi dengan tidak terasa. Diprediksi ada beberapa partai yang gagal kembali membangun kekuatan Fraksi. Dan itu diawali oleh kesalahan saat ini.

Kalau saja beberapa partai politik mau bicara tegas: "Boleh maju lagi asal ya jangan satu partai, pikirkan juga nasib pengusung pada perhelatan pileg 2019".

Setidaknya kalimat diatas bisa meminimalisir kekalahan pada 2019. Sedangkan pertarungan sesungguhnya bagi partai politik adalah ketika pemilihan legislatif bukan Pilkada.

Atau barang kali mencoba untuk melawan akan lebih terhormat dan berdampak positif di 2019. Tidak perlu berpikir menang atau kalah, cukup berupaya agar mesin partai terkonsolidasikan.

Apalagi jika pasangan petahana tidak ada lawan. Niat awal pertai pengusung untuk "manasin mesin" sulit dilaksanakan. Kalau akhirnya ternyata cuma ada 1 paslon, uang besar tidak akan keluar. Paling yang gemuk cuma "makelar" yang posisi dipartainya agak strategis saja. Bagi PAC dan Ranting siap-siap gigit jari.

Persoalan Pilkada Tangerang tidak akan banyak berdampak positif bagi konsolidasi partai dan apalagi jika untuk menghadirkan figur-figur kader partai. Ia hanya menjadi hajat petinggi. Bukan semua elemen.

Berat memang jika harus bertarung melawan Duo Golkar, kolaborasi putra mahkota sekalugus petahana dan tuan tanah. Tapi jika dilakukan, tentu akan berdampak bagi kemajuan partai minimal 2 atau 4 tahun kemudian.  

Harapan terakhir ada pada PDI Perjuangan dan Gerindra. Kita tunggu, keduanya akan mengikuti jejak partai lain, yang sudah merekomendasikan paslon Zaki-Ombi atau berani melawan. Jika hanya ikut-ikutan, maka penurunan kursi di DPRD namapaknya bukan isapan jempol. Atau kita tunggu keberanian PAN dan PKS untuk sedikit memaksakan Iskandar Mirsad sebagai pendamping petahana.

Pilkada 2018 harusnya dijadikan arena konsolidasi bukan malah ikut dikerdilkan. Apalagi ikut melebur dalam permainan Golkar yang sejak awal sudah kurang etis.

Penulis adalah Ketua Alumni Sekolah Demokrasi.