Komunitas

Angklung Gubrak Ramaikan Festival Seni Tradisional dan Pasar Rakyat

Administrator | Senin, 13 November 2017

PANONGAN - Kesenian angklung gubrak dari Sanggar Putra Kemuning, Desa Kemuning, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang meriahkan acara Festival Seni Tradisional dan Pasar Rakyat yang dihelat Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Harian Kabupaten Tangerang, di Area Mardi Gras, Citra Raya, Sabtu (11/11/2017).

Angklung gubrak merupakan salah satu kesenian tradisional yang lahir dari masyarakat agraris di wilayah Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang. Amin (67), pimpinan kesenian angklung gubrak mengaku, ia adalah keturuna ke 11 dari Ki Gedoy, penggagas kesenian tersebut.

Amin juga mengungkapkan, kesenian ini muncul dari wangsit yang didapat oleh Ki Gedoy, sebagai kesenian pemanggil hujan, yang kala itu di wilayah Kresek dan sekitarnya terjadi kemarau panjang. Namun seiring berkembangan zaman, kesenian ini berkembang menjadi seni pertunjukan dalam acara hajatan khitanan, pernikahan, selamatan tujuh bulanan, dan syukuran pada saat musim panen.

Namun saat ini, kesenian tersebut sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Karena kalah tanding dengan ingar-bingar kesenian musik moderen seperti orgen tunggal dan lain sebagainya. "Sekarang mah sudah jarang, paling-paling kalau ada orang nadar. Soalnya sekarang mah banyak yang pakai orgen tunggal," ujar Amin.

Ketua Panitia Festival Seni Tradisional dan Pasar Rakyat, Widi Hatmoko menjelaskan, selain memberikan hiburan murah meriah kepada masyarakat, kegiatan ini juga untuk mengangkat kesenian-kesenian tradisional, baik kesenian tradisional lokal Tangerang maupun kesenian tradisional daerah lain yang ada di Kabupaten Tangerang.

"Kegiatan ini juga sebagai upaya untuk memberikan pedidikan budaya kepada masyarakat," katanya.

Widi juga mengucapkan terimakasih kepada pihak managemen Citra Raya yang telah memberikan ruang dan tempat dalam kegiatan ini. Ia juga berharap, tidak hanya Citra Raya, pihak-pihak lain seperti mall atau pusat-pusat perbelanjaan modern lainnya bisa melakukan hal yang sama, yaitu memberikan ruang untuk kreativitas kesenian tradisional. Karena, menurut wartawan yang juga sebagai seniman di Tangerang ini, kesenian tradisional sudah mulai tergerus oleh kesenian-kesenian moderen, yang diantaranya, tidak sedikit yang tak seiring dengan kepribadian bangsa Indonesia.

"Kalau kita bicara budaya, atau kearifan lokal, ini adalah tanggung jawab bersama, baik penerintah, maupun masyarakat. Jadi, jangan sampai generasi kita berikutnya tidak mengenal budayanya sendiri. Karena budaya adalah jati diri suatu bangsa. Dan, kalau kita mempunyai banyak ruang untuk berkreativitas, terutama untuk seni dan budaya tradisional, akan semakin mudah kita untuk menularkannya kepada masyarakat secara luas," ucapnya. (PUT)